Minggu, 29 Mei 2016

Cerpen Karya Mahasiswi PGSD Univeristas Kuningan dengan Judul "Dia Adalah Ghusfranku Lagi"



Assalamualaikum Wr. Wb.
Hallo mahasiswa/i PGSD UNIKU, kali ini mimin mau posting lagi cerpen ke-2 karya  Rita Cikuy kelas 2B. Selamat membaca :)

DIA ADALAH GHUFRANSKU LAGI...
1.       
Seperti yang sudah aku katakan pada cerpen pertama ku di Dia Adalah Ghufransku bahwa ceritaku dengan ghufrans tidak akan pernah putus ataupun berhenti, akan terus berkelanjutan entah sampai kapan, aku tidak tahu. Aku hampir lupa, jika kalian ingin tahu alasan sebenarnya, aku melanjutkan cerpen ini karena seseorang. Seseorang itu bukan Ghufrans ataupun mamahnya, melainkan karena Afifah Allif, sang pembaca setia cerita-ceritaku menyangkut Ghufrans.
Penasarankan sosok Afifah Allif itu seperti apa? Baiklah, dengan senang hati aku berikan gambaran mengenai sosok Afifah Allif untuk kalian. Dia adalah sesosok perempuan yang unik, lebih unik dari hewan undur-undur yang berjalan mundur. Perempuan tidak waras saat waktu tertentu, contoh kecilnya dimapun dan kapanpun waktunya Dia sering mengajak ngobrol orang yang tidak ia kenal, laki-laki tentunya. setelah itu Dia meminta selfie berdua dengan orang yang tidak Dia kenal itu. Aku tidak tahu foto itu akan Dia apakan? Yang jelas khusunya aku yang melihat Dia seperti itu bukannya malu hanya saja tidak kuat untuk menahan tawa, belum lagi melihat wajah orang tidak di kenal itu, bukannya ia senang justru malah membuatnya takut dengan melihat afifah yang bertindak seperti itu. Bagiku saat seperti itu lah saat-saat bebas merdeka. Dimana dunia tawa hanya milikku dan juga teman-temanku yang melihat kegilaan yang dibuat Afifah Allif. Dan hal penting yang harus kalian tahu tentang dirinya adalah, jika ada seseorang yang berniat mencurahkan isi hatinya pada Afifah Allif, Dia hanya bisa menjawab “OH” jika tidak, ia hanya nyebut nama Tuhan “ya Allah” atau bisa juga “MASA?” lebih parahnya lagi Dia tidak mengatakan apa-apa hanya tersenyum. Sudah hanya pasang muka seperti itu sambil manggut-manggut tidak jelas. Lalu titik setianya dimana? Dia selalu siap mendengarkan apapun, kapanpun dan dimanapun saat aku butuh Dia sebagai pendengar setia ataupun pembaca setia sekaligus. Terimakasih, sudah menjadi kawan yang bukan lawan. Terimakasih sudah setia membaca ataupun mendengarkan keluh kesah tentang sosok Ghufrans, mungkin akan terasa bosan, tapi tidak denganku.
2.       
Saat itu adalah hari ulang tahun Ghufrans, Saya masih ingat hari itu tanggal 7 April, dimana hari itu juga adalah hari pernikahan kaka Ghufrans. Dan dengan hari itu tentunya hari kesempatan untuk melihat sosok Ghufrans. Strategi jitu pun aku pikirkan dengan orang-orang terdekat. 
“a gir, ghufrans ulang tahun hari ini. Gimana?” tanya ku bingung kepada Giri. Dan  saking niatnya buat ngerayain ulang tahunnya ghufrans, aku datang ke rumah Giri pada siang hari.
“gimana...gimana? ya gimana?” tanya Giri balik, karena Dia pun merasa bingung dengan pertanyaan yang aku tanyakan padanya.
“pengen di rayain meskipun seadanya!!” jawabku greget, karena Giri tidak peka dengan apa yang aku inginkan.
“ohh...hahaha ya rayain lah, terserah maumu seperti apa?” tanya Giri padaku, sambil memainkan handphonenya yang Dia genggam dari awal aku datang.
“mau nya sih kita sudah ada di Rumah Ghufrans tanpa sepengetahuan Ghufrans, mamahnya juga harus terlibat. Biar lebih berkesan melihat mamah sama anak.”
“ok..ok bisa diatur, mending sekarang kamu kumpulkan siapa saja yang akan ikut merayakan ulang tahunnya Dia.”
 Setelah percakapan itu selesai aku beritahu mamah Ghufrans terlebuh dahulu, sekaligus meminta izin untuk merayakan di rumahnya. Ternyata mamah Ghufrans mengizinkannya namun beliau masih ada urusan lain yang harus beliau kerjakan, dengan sabar aku dan yang lain menunggu beliau. Sudah 2 jam kami menunggu beliau, pesan BBM masuk dari handphoneku ternyata beliau mengabariku.
“neng, maaf mamah tidak bisa ikut dengan kalian, mamah akan pulang telat jadi kalian langsung ke rumah saja duluan. Ada teteh dan juga Ghufrans di rumah”. Isi pesan mamah  yang menyatakan penyesalan beliau karena tidak bisa ikut serta dalam rencanaku.
Sedikit kecewa memang, karena rencanaku tidak sesuai yang aku harapkan. Namun tak masalah, masih ada rencana lain yang bisa ku susun. Tepatnya jam 5 sore, kami yang berjumlah 8 orang bergegegas menuju rumah Ghufrans. Di perjalanan yang jaraknya tidak jauh dari rumah Ghufrans, Bram yang sudah ku anggap sebagai adikku sendiri, ia berpura-pura mesin vespa balapnya itu bermasalah, maksudnya untuk memancing Ghufrans agar dapat keluar rumah. Dan kami bisa masuk ke dalam rumahnya tanpa ia sepengetahuannya. Dan asal kalian tahu juga, tetehnya pun aku ajak kompromi untuk menjalankan rencanaku ini.
“cepetan sini....barusan Ghufrans keluar rumah”, ajak tetehnya saat kita mendekat rumahnya.
Dengan  bergerombol kami langsung masuk dalam kamar Ghufrans, suasana menjadi heboh seketika. Maklum saja, kami panik saat itu. Kue bolu yang terlihat lezat sudah aku pasang dengan lilin yang menyala. Sedangkan diluar sana Ghufrans sedang berjalan menuju rumah.
“ghufrans sedang berjalan menuju rumah a”, sambar Shandi  memberitahu Giri yang sedang duduk di kasur Ghufrans. Karena barusan ia mendapatkan BBM dari temannya Bram.
“ok. siap-siap yah!!”, suruh Giri pada kami.
Dan sialnya... Ghufrans terlalu lama untuk masuk dalam kamar, ia malah berdiri di depan rumah dan mengajak ngobrol Bram tentang hal apa aku tidak tahu. Lilin yang tadinya menyala dengan cantik, mengecil dan meleber ke dasar bolu. Kalian bisa membayangkan mungkin, sekesal apa aku saat itu?
“buka pintu kamarnya, langsung keluar saja kal!” komando Giri padaku. Aku menurut saja karena akan percuma jika kita berlama-lami di dalam kamarnya.
Aku yang kerepotan membuka pintu kamar, akhirnya Santi membantuku untuk membuka pintunya. Dibuka lah pintu olehnya.
 “Happy Brithday a Go.............”, belum juga selesai kami menyanyikan lagu itu, Ghufrans berlari keluar dengan kecepatannya. Dan aku kaget karena saat aku keluar dari pintu kamarnya Ghufrans sudah tidak ada diruangan tamu itu.
“Ghufransnya kemana?” tanyaku heran pada Bram yang ku dapati di rungan tamu.
“lari teh keluar”, jawab Dia dengan pasang muka datar.
“haahh...seriusan kamu?” tanyaku lagi karena tidak percaya.
Saat itu juga ku simpan kue bolu yang dari tadi masih ada ditanganku. Aku keluar dengan hati yang penasaran. Ku dapati sosok Ghufrans yang sedang duduk di Pos Kamling yang tidak jauh dari rumahnya.
            “kenapa lari?” tanyaku langsung.
            “tak apa”, jawabnya singkat dengan selengean ciri khasnya.
Aku tidak pernah menyalahkan Ghufrans yang seperti itu, Aku tetap suka. Tapi kenapa harus dengan cara yang seperti itu? Lari dengan spontan?
Tiba-tiba Giri mendekat saat kita sedang berbincang singkat, mengajak Ghufrans untuk  kembali masuk rumahnya. Akhirnya Ghufrans mau. Saat itu pesta dimulai, orang-orang yang aku anggap adik pada saat itu mereka bermain dengan penuh gembira, melempari bolu pada rekannya, bahkan mengoleskan cream kue pada wajah dengan silih berganti, mondar-mandir dengan gelagak tawa, aku senang melihat mereka. Ghufrans, Giri bahkan Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka yang seperti itu. Ada hal yang mengganjal yang membuatku hanya diam tidak banyak bicara “Ghufrans”, Dia tak pernah menatap ku sedikitpun pada saat berbicara, dia hanya melihat orang-orang yang ada di sekelilingnya terkecuali AKU. Itu yang membuat ku nampak berbeda seperti biasanya, seperti bukan seorang aku. Apakah ada yang salah denganku? Ku rasa tidak. Apakah karena ulang tahunnya kurayakan? Tapi ku rasa itu hal yang wajar, jika ia tidak ingin di istimewakan maka ku ucapkan maaf untuknya, salahmu terlahir sebagai orang yang istimewa. Maaf maksudku, Dia terlahir special itu menurutku dan juga bagiku. Mungkin menurut kalian tidak seperti yang ku katakan.
“Shan, shalat berjama’ah yu?“ ajakku pada Shandi. (Disini aku ceritakan shalat bukan karena aku ria atau apapun itu yang kalian anggap itu negatif, karena disini akan ku ceritakan semua tentangku terhadapnya). Bagiku itu merupakan kesempatan untuk bisa keluar dari percakapan yang tidak jelas asal-usulnya.
Bayangan mata Ghufrans saat tidak menatapku itu terlihat jelas, otakku sudah dipenuhi oleh kejanggalan itu. Mungkin itu hal yang biasa bagi kalian, dan menurutku juga. Tapi kenapa berbeda saatku menginjakan kaki di kamar mandi, itu terasa sulit bagiku, yang ku pikirkan hanyalah “apakah ini salahku?” lagi-lagi ku seka air yang jatuh tanpa permisi dimataku, lalu kutahan suara sesak yang sesekali terdengar. Enggan aku untuk keluar kamar mandi, karena ku tahu sebelum aku pulang kejadian itu akan ku dapatkan kembali seperti tadi. Percuma rasanya aku berada dirumah ini.
Bagiku hari itu adalah hari sialku, kalian tahu? Sebelum menuju rumah Giri ku sempatkan waktu untuk menangis karena kesal, hadiah yang sudah aku kemas dengan rapih, yang sudah ku siapkan jauh-jauh hari. Saat akan ku ambil yang kudapati hanya kantung hadiahnya  saja. Aku tahu siapa yang mengambil barang itu. Yah kakaku. Yang tidak habis ku pikir, kenapa harus barang itu? Masih banyak barang yang lain yang bisa dia ambil.
“jadi kita akan kemana teh?” tanya santi padaku. Saat itu Dia sedang bersamaku.
“cari kakak ku”. Jawabku singkat dengan menyeka air yang keluar, maaf mungkin aku terlihat berlebihan. Dan asal kalian tahu itulah aku, tidak sekuat seperti yang kalian lihat.
“kemana teh?” tanya Dia lagi.
“ke tempat kerjanya.” Karena ku pikir saat itu kakak ku sedang bekerja, tidak ada waktu untuk ku telpon, karena memang saat itu kami sedang tidak mempunyai pulsa untuk menelpon. Hehe
Setelah sampai, tak kudapati seorang Muawaludin Ardiyan (kakaku), hanya ada rekan kerjanya yang sedang bertugas.
            “teh, pa Ardiannya ada?”. Tanyaku pada salah seorang kepala toko.
            “hari ini dia libur neng, memang tidak tahu?” tanyanya kembali, karena orang itu cukup kenal denganku. Jadi tidak merasa canggung saat berbincang.
            “tidak teh.” Jawabku dengan sedikit kecewa, aku kembali pulang menuju rumahku karena percumah bila ku berdiam diri ditempat itu. Ku bawa kue yang aku tinggalkan tadi, lalu kembali menuju rencanaku yang aku buat. Dan al-hasil seperti ini, tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan.
Disini aku meminta maaf pada Ghufrans, barang yang aku berikan tidaklah original. Bisa dikatakan itu barang bekas, terlalu kasar mungkin. Namun seperti itulah kejadiannya. Ku harap kau tak marah dengan apa yang aku lakukan selama ini, bukan semata-mata demi kesenanganku, dan aku tahu kau lebih mengenaliku dari diriku sendiri. Ku harap kau mengerti.
            Hari ke hari terlewati bahkan minggu ke minggu terasa cepat sekali, tetap via Allah lah yang membuatku kuat. Selama itu Ghufrans masih dengan sikap diam dan dinginnya, entah mengapa? Sampai saat ini aku tidak tahu apa alasannya.
3.       
Tanggal 5 mei kemarin tepatnya, ekspedisi ciremai 3078 mdpl dilaksanakan, aku selaku alumni mempunyai kewajiban untuk mendampingi anggota muda sampai puncak dan kembali pulang dengan selamat. Kurang lebih beranggotakan 10 orang, jika tidak salah, aku lupa untuk mengingat. Aku sudah berencana untuk ikut mendampingi karena saat itu hanya ada 2 pendamping yang mendampingi mereka, aku tidak mengharapkan Ghufrans untuk ikut mendampingi saat itu, lebih tepatnya mengharapkan bisa bertemu dengannya lagi.
Ternyata saat itu Ghufrans pun ikut mendampingi, tidak munafik untuk menyatakan aku senang saat itu bisa bertemu dengannya kembali, bahkan melakukan pendakian bersama,  karena jujur selama ini aku tidak pernah melakukan pendakian bersamanya. Gemetar hati ku, sepanjang jalan aku memikirkan “bagaimana reaksi ku nanti saat berhadapan dengannya?” kini otakku liar, dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan konyolku. Kalianpun tahu seperti apa sikap Ghufrans pada ku saat minggu lalu, dan aku takut aku terlihat kikuk didepannya. Jujur saja saat itu pula badanku terasa tidak stabil, karena cuaca mungkin, entahlah. Seolah-olah tenggorokanku dipenuhi semut yang menggigit, gatal sekali. Tiba-tiba seorang pria berbicara dengan jarak 4m dibelakangku.
            “tuh kan, kata aa juga diam dirumah saja jangan ikut haha”. Katanya.
Terlihat jelas sosok itu dengan semua ciri khasnya, Ghufrans Fathurakhman, cowok menjengkelkan yang tiba-tiba menyahut dan seolah-olah ingin mengajakku bercanda seperti biasa. Makhluk aneh itu, membuatku ingin mengakhiri semua perjuanganku. Tapi bohong.
Saat itu semua berjalan seperti biasa, malam yang ku nantikan telah tiba. Semua berkumpul mengelilingi api unggun, kayu yang basah menyulitkan kami untuk membuat api yang sempurna.
            “yyeeee saya mah dikasih jaket sama Raskal, haha.” Ucapnya seperti anak yang baru dapat balon dari mamahnya. Semua orang hanya bisa tertawa melihat lagaknya yang konyol itu.
            “kal lain kali pinjem barang lagi yah? Tidak apa ikhlas ko. Biar bisa dikasih hadiah lagi hahahaha.” Katanya, karena saat itu memang benar aku meminjam barang padanya, sebuah Sleeping Bag(SB) dan didalam lipatan SB itu ada jaket yang aku berikan untuk Ghufrans, itu lah barang yang kusebut-sebut saat ulangtahun Ghufrans, sebuah jaket. Anggap saja sebagai hadiah ulang tahunnya. Sebenarnya sudah lama ingin ku berikan hanya saja keadaan yang tidak memungkinkan.
            “hahaha maumu.” Jawabku dengan senyum sumbringah.
Saat perjalanan menuju pulang tidak hanya sekali Ghufrans memancingku dengan kalimat-kalimat yang tidak bermutu,
            “tuh kal, cewek cakep tuh namanya. Dibanding sama situ mah beuhh jauh. Mending cewek itu lah.” Ucapnya. Dia berbicara itu tidak hanya satu kali, sering malah. Aku sih sudah terbiasa dengan kalimat seperti itu, hanya saja jengkel saat melihat Dia harus tertawa lepas.
Bagi ku itu adalah sebuah rayuan, rayuan konyol yang baru pernah aku alami. Dan anehnya bisa  melelah dengan caranya yang seperti itu. Jurus apa yang Dia gunakan, entahlah? Yang  penting aku senang saat itu.
            “raskal si ibu guru, kemana saja kau?”
            “bang kriwil.. saya selalu sibuk bang, gak nyangka bisa ketemu disini ya kita?” jawabku, bang kriwil adalah salah satu panitia saat aku mengikuti seleksi di Cirebon Adventure.
            “mana nomor handphone mu kal?”
            “aduh, saya tidak hafal nomor handphone sendiri bang.”
            “Yaudah nih. Nomor handphone saya kal, nanti sms saja kesini yah?”
Saat ku terima kertas yang berisikan nomor handphone itu, ku dapati Ghufrans yang berada di belakangku. Aku tidak tahu apa yang Dia pikirkan saat itu, yang aku takutkan adalah Dia mengira bahwa aku adalah perempuan gampangan yang meminta nomor handphone laki-laki yang tidak dikenal. Jujur, saat itu aku takut. Mencoba untuk tenang, dan kalian tahu? Saat itu juga aku robek kertas yang diberikan oleh bang kriwil. Aku tidak tahu Ghufrans melihat dengan jelas ataukah tidak, aku rasa Dia melihat dengan jelas, karena jarak ku dengannya cukup dekat.
Setelah sampai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) hujan turun, saat itu aku berteduh disebuah wc yang tidak terpakai, sendiri.
            “kal....” laki-laki itu memanggilku, dengan jaket yang cukup basah dengan air hujan.
            “heyyyy.” Sapaku singkat, karena aku terlalu sibuk membaca novel “Stardust” ku.
            “ko sendiri? Baca novel lagi? Pindah sana yuu? Ada Ghufrans dan yang lain.” Ajak Dia padaku. Dia adalah temanku juga satu Fakultas dengan Ghufrans, namanya Farhan.
            “tidak, duluan saja. Nanti ku menyusul.”
Tak lama kemudian aku menyusul, karena disuruh makan oleh Ghufrans. Ku dapati Ghufrans yang sedang makan. Aku memilih makan bersamanya dalam piring yang sama, hal kecil mungkin bagi kalian, dan hal kecil juga bagiku saat berpacaran dahulu ketika suasana seperti itu. Tapi suasana kali ini berbeda, amat berbeda. Makan dengan satu piring berdua dengan orang yang kurang peka, bahkan dingin sekalipun, dengan status adik kakak yang mempunyai perasaan yang berbeda, aku adalah adiknya yang merasakan rasa suka yang berlebih padanya. Dan kau adalah kakak, kakak yang kurang peka dalam segala hal terhadapku. Untuk situasi yang seperti itu sangat sulit untuk ku dapati dengannya. Senang sekali yang menjadi aku saat itu.
“Maap jika aku yang terlalu berlebih dalam mengartiakan segala hal yang kau lakukan padaku, mungkin karena aku yang terlalu percaya diri, Tuhan pemaaf, jika hambanya lepaskan maaf, sudahkah kau?” benakku selalu berbicara seperti itu.
Setelah makan kami berbincang dengan satu sama lain, bahkan Farhan pun ada.
“a Gir awas si Farhan tuh suka ada maunya kalau sudah mepet begitu tuh, jadi farhan tuh mau sama siapa? Sama adek nya gak jadi, jadi mau sama siapa?” ucapku pada saat itu, Farhan itu pernah mendekati Sri yang sudah ku anggap Adik sendiri. Tapi mereka tidak memutuskan untuk berpacaran.
“pengennya sih sama kakaknya, yah a Giri? haha” jawabnya, seolah-olah meminta izin pada Giri.
Aku cukup kaget mendengar apa yang Dia ucapkan, aku yakin Dia hanya bercanda. Entah Ghufrans yang sedang duduk disampingku mendengar apa yang Dia ucapkan atau tidak, aku tidak tahu. Tapi Giri yang melihat reaksi Ghufrans dan menjawab celotehan Farhan dengan maksud bahwa ia tidak meyetujuinya
4.       
Pendakian sudah usai saat itu kampus sedang mengadakan acara Pertandingan Olah Raga, Mahasiswa. Seperti Futsal, Basket dan juga volly. Saat itu Fakultasku melawan Fakultasnya Ghufrans, FKIP vs FHUT.
            “hari ini akan aku ramal, eehhh bukan Doa deh biar manjur?” ucapku pada Afifah Allif dan Indri yang saat itu sedang bersamaku menonton pertandingan.
            “doa apa kal? Tanya Afifah.
            “semoga Ghufrans kesini liat pertandingan, amiinnn. Woyy aminin wooyy.” Pintaku pada Afifah dan Indri.
            “aammiinnn.” Serentak mereka mengaminkan.
            “coba saja Ghufrans tiba-tiba datang terus duduk disebelahku.” Ucapku dengan nanda yang merengek seperti anak kecil yang meminta ayahnya untuk datang dan membawakan permen.
Entah apa yang membawa ku ingin melihat ke arah sebelah kiri, seperti ada harapan yang akan terwujud.
            “astagfiruwloh...astagfiruwloh...astagfiruwloh.”
            “kal, kenap kal...?” tanya indri dengan nada kaget.
            “ndri coba deh situ lihat ke arah kiri, cowok yang pake jaket abu, celana pendek warna coklat kotak-kotak. Astagfiruwloh itu Ghufrans Indri.” Jawabku dengan nada panik, jujur saat itu gemeteran. Ternyata doa ku Tuhan wujudkan.
            “hahahahaha gila situ kal, sampe istigfar begitu. Dikiranya lihat setan kali ya?.”
Aku tidak berani untuk melirik ke arah manapun selain ke arah depan dan juga kiri, karena aku tidak tahu posisi Ghufrans saat itu duduk disebelah mana? Jika tidak dibelakang maka dia akan duduk di sebelah kanan.
Saat itu aku pura-pura melirik ke arah kiri dan kudapati Ghufrans yang sedang melihatku juga, akhirnya ku lotarkan senyuman padanya. Benar-benar merasa konyol saat itu. Tapi itulah suatu pernyataan yang sesungguhnya, disini tidak ada kebohongan apapun, terkecuali jika aku tidak mencintai sosok Ghufrans.
5.       
Aku rasa aku kembali seperti anak di masa remaja, dimana aku yang seperti baru merasakan rasa aneh pada seorang pria, entah itu apa? Sebuah cinta? Sepertinya aku terlalu malas berbicara tentang kata itu, namun harus ku lontarkan untuk menuntaskan sebuah cerita. Tapi wajar sekali jika ku merasa seperti itu, ceritaku berbeda dengan cerita kalian yang mungkin monoton hanya seperti itu, tak ada hal yang menantang. Maaf jika ku sombongkan diri, kali ini sombong adalah sebuah keharusan. Karena cerita bahkan rasaku terhadap Ghufrans tidak bercampur dengan sebuah nafsu. Maaf maksudku nafsu yang terlalu menginginkan keutuhan Ghufrans, dan bagi kami hanya melihat sebuah senyuman pun sudah cukup, kami tidak serakah dalam kata yang bernamakan cinta. Khususnya untuk ku mungkin kata kami terlalu berat. Karena aku tak tahu apa yang Ghufrans rasakan, tapi ku yakin ia merasakan hal yang sama sepertiku.
Dan rasa yang ingin dilindungi, bahkan tak kudapati darinya. Di rumah itu ada aku, Ghufrans dan juga orang-orang yang sama seperti biasa, Giri, Bram, Santi dan juga yang lainnya. Rumah itu cukup jauh dari arah rumahku, yang mengharuskan aku membawa kendaraan pribadi. Sengaja aku membawa sepedah motor dari rumahku, karena alasan aku takut tidak bisa pulang dengan cepat jika aku nebeng dengan salah satu temann ku, karena biasanya mereka pulang dengan larut malam. Malam itu aku pulang pada pukul setengah sepuluh malam.
“frans itu anter raskal pulang, kasian masa bawa motor sendiri?” ucap salah seorang yang ku anggap kaka, karena ia tahu aku pulang dengan seorang sendiri. Meskipun pulang dengan waktu yang bersamaan dengan Galih dan wati tapi mereka berbeda arah dengan arah rumahku.
Saat itu aku kikuk dengan mendengar ucapan dari salah seorang yang ku anggap kaka, jika ku berani saat itu ingin skali aku mengatakan “iah, anterin pulang” sambil merengek pada Ghufrans. Tapi tak bisa, aku pikir itu bukan lah hal yang mudah untuk ku lontarkan, meskipun beralasan karena aku adalah adikmu jadi wajar saja jika kau melindungiku saat aku membutuhkanmu.
“hahahaha”, Ghufrans hanya melempr tawa dengan seperti biasa,  sudah kuduga, dia tidak akan peka dengan hal itu. Bahkan untuk ingin dilindungipun aku tak punya hak. Hebat sekali bukan? Ghufrans mengajariku menjadi perempuan tangguh sekalipun, terimakasih
6.       
Bukan hanya itu, ada hal lagi yang menurutku itu tidak logis. Tapi ini benar adanya, ini adalah caraku untuk menahan ataupun meluapkan emosi. Aku merasa bahwa aku seperti anak autis. Ada salah satu nomor Ghufrans yang sudah tidak terpakai lagi, aku beri foto papahnya Ghufrans, aku mendapatkan foto itu entah dari mana aku lupa, yang jelas aku menyimpan foto itu dengan tidak meminta izin, maafkan Ghufrans. Entah apa yang aku pikirkan, yang jelas aku ingin berbagi rasa dengan seseorang, dengan tanpa banyak bicara. Ku pilih untuk mengirimkan beberapa sms yang isinya adalah curahan hatiku pada seseorang itu. Dan aku tahu sms itu pasti akan gagal terkirim, itu sebabnya ku awali sms itu dengan kata “SENGAJA”, karena memang dengan sengaja aku kirimkan pesan itu meski akhirnya akan gagal terkirim.
Kalian tahu?? Malam ini pukul sepuluh malam, posisiku saat ini sendiri semua orang sedang tidak dirumah, tepatnya dikamar depan, kamar kakaku. Saat ini aku ketakutan, bulu kudukku merinding. tapi harus ku selesaikan ceritaku ini. Mari kita teruskan.
Papah Ghufrans sudah meninggal, sejak tahun 2012. Kata Ghufrans papahnya sakit. Aku tidak akan menceritakn secara detail. Hanya itu yang bisa aku ceritakan.
Aku selalu menangis saat mencoba untuk memberitahunya lewat pesan sms yang aku kirimkan, menceritakan tentang Ghufrans, tentang mamahnya bahkan semua yang aku alami hingga saat ini  terhadap Ghufrans.
Tidak jarang aku mengajak Ghufrans untuk berziarah kubur papahnya, namun Tuhan belum mengizinkan. Dan karena memang Ghufrans tipe orang yang sulit untuk bangun pada pagi hari sehingga tidak sempat untuk berziarah. Entah apa yang memaksaku ingin sekali bertemu dengan almarhum. Sampai ku tanyakan langsung alamat kuburan almarhum pada kekasihnya. Tidak lama beliau memberiku sebuah alamat. Ku dapati alamat itu.
            “ri mungkin gak sih kita dapat nemuin itu kuburan? Ini kuburan banyak banget ri” tanyaku pesimis pada Ari temanku yang mengantarkanku.
            “hahaha tahu dah kal, cari aja lah.” Jawabnya
            Tidak ku temukan kuburan yang mamah Ghufran maksud, aku sudah pesimis untuk mencarinya.
            “Kal, ini kuburannya.” Ucapnya, dengan berdiri disalah satu kuburan yang yang sudah dicor dengan batu yang berwarna abu. 
            “jangan bohong deh ri, sumpah udah cape ini.” Jawabku dengan kesal.
            “siapa yang bohong si? Ini seriusan.”
Aku mendekat, dan membaca batu nisan itu. “MIED ABDUL HAMID BIN ABDURAHMAN” ternyata benar. Kaget, senang, terharu, semua rasa bercampur.
“mau ditinggal?” tanya Ari padaku, Dia cukup mengerti apa yang aku inginkan saat itu.
“tinggal aja ri.” Jawab ku singkat dengan menahan air dikantung di mataku.
Dengan cepat ari meninggalkan ku sendiri ditempat itu, buyar semua air mataku jatuh ke pipi bahkan ke tanah sekaligus.
“pah ini saya, saya yang sering mengirim pesan gagal untuk papah, ini saya yang mencintai anak papah, mungkin saya tak tahu pah apa itu cinta atau rasa apakah itu saya tak pernah tahu pah, yang jelas rasa ini semakin kuat  dan semakin bertahta dihati saya. Semoga papah bangga melihat anak papah yang menjengkelkan itu pah. Karena sayapun begitu, dia baik pah, dia tangguh, dia berbeda dengan orang-orang yang pernah saya kenal, salam hormat untukmu pah” itulah kalimat yang aku lontarkan untuk menyapa beliau dalam hati saya. Aku yakin beliau dapat melihatku saat itu. Meskipun sangat mustahil aku dapat melihat nya, tapi aku yakin beliau hadir saat itu.
Tak lupa saya panjatkan doa untuk beliau, sekali lagi saya tekankan saya tidak peduli menurut kalian ini Ria atau apapun itu, yang jelas aku tidak bermaksud untuk seperti itu. Dan dimanapun bahkan siapapun untuk kalian yang membaca ceritaku. Sempatkan lah untuk mendoakan beliau. “Semoga beliau selalu ada dalam perlindungan Allah SWT, amin.”
Dan jangan lupa doakan pula aku dengan Ghufrans, doakan yang terbaik untuk kita. Terimakasih untuk mamah yang dengan senang hati memberiku alamat itu, dan terimakasih yang sebesar-besarnya untuk temanku Ari yang sudah mengantarkan ku.
7.       
Maaf mungkin dalam ceritaku tidak sedikit ada subuah tangisan, jika kamu memanggap itu adalah lemah?? Lalu bagaimana reaksimu jika posisimu sama sepertiku? Saya berani bersumpah kamu tidak akan bisa memasang wajah yang senyum sekalipun. Jika benar kamu bisa memasang wajah tersenyum? Maka setelah itu saya pastikan kamu menangis lebih dari tangisanku mungkin.
Ini adalah ceritaku, cerita yang entah sampai kapan akan berlanjut. maaf untuk kata rindu yang tak pernah usai, Rindu yang smakin menjadi bahkan rasa yang semakin bertahta
Terimakasih,
Hormat Saya,
 “Rita cikuy”

Gimana, bagus kan cerpennya? ayoo bagi kalian yang suka membuat Karya Sastra baik itu cerpen, puisi, dan karya lainnya kirim saja ke email kami yaitu himapgsduk@gmail.com 
Ayo kami tunggu karya kalian, untuk kami publikasikan baik di blog ataupun di mading PGSD UNIKU :)
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar