Assalamualaikum Wr. Wb.
Hallo mahasiswa/i PGSD UNIKU, kali ini mimin mau posting lagi cerpen ke-2 karya Rita Cikuy kelas 2B. Selamat membaca :)
DIA ADALAH GHUFRANSKU LAGI...
1.
Seperti yang sudah
aku katakan pada cerpen pertama ku di Dia Adalah Ghufransku bahwa ceritaku
dengan ghufrans tidak akan pernah putus ataupun berhenti, akan terus
berkelanjutan entah sampai kapan, aku tidak tahu. Aku hampir lupa, jika kalian
ingin tahu alasan sebenarnya, aku melanjutkan cerpen ini karena seseorang.
Seseorang itu bukan Ghufrans ataupun mamahnya, melainkan karena Afifah Allif,
sang pembaca setia cerita-ceritaku menyangkut Ghufrans.
Penasarankan sosok
Afifah Allif itu seperti apa? Baiklah, dengan senang hati aku berikan gambaran
mengenai sosok Afifah Allif untuk kalian. Dia adalah sesosok perempuan yang
unik, lebih unik dari hewan undur-undur yang berjalan mundur. Perempuan tidak
waras saat waktu tertentu, contoh kecilnya dimapun dan kapanpun waktunya Dia
sering mengajak ngobrol orang yang tidak ia kenal, laki-laki tentunya. setelah
itu Dia meminta selfie berdua dengan orang yang tidak Dia kenal itu. Aku tidak
tahu foto itu akan Dia apakan? Yang jelas khusunya aku yang melihat Dia seperti
itu bukannya malu hanya saja tidak kuat untuk menahan tawa, belum lagi melihat
wajah orang tidak di kenal itu, bukannya ia senang justru malah membuatnya takut
dengan melihat afifah yang bertindak seperti itu. Bagiku saat seperti itu lah
saat-saat bebas merdeka. Dimana dunia tawa hanya milikku dan juga teman-temanku
yang melihat kegilaan yang dibuat Afifah Allif. Dan hal penting yang harus
kalian tahu tentang dirinya adalah, jika ada seseorang yang berniat mencurahkan
isi hatinya pada Afifah Allif, Dia hanya bisa menjawab “OH” jika tidak, ia
hanya nyebut nama Tuhan “ya Allah” atau bisa juga “MASA?” lebih parahnya lagi
Dia tidak mengatakan apa-apa hanya tersenyum. Sudah hanya pasang muka seperti
itu sambil manggut-manggut tidak jelas. Lalu titik setianya dimana? Dia selalu
siap mendengarkan apapun, kapanpun dan dimanapun saat aku butuh Dia sebagai
pendengar setia ataupun pembaca setia sekaligus. Terimakasih, sudah menjadi
kawan yang bukan lawan. Terimakasih sudah setia membaca ataupun mendengarkan
keluh kesah tentang sosok Ghufrans, mungkin akan terasa bosan, tapi tidak
denganku.
2.
Saat itu adalah
hari ulang tahun Ghufrans, Saya masih ingat hari itu tanggal 7 April, dimana
hari itu juga adalah hari pernikahan kaka Ghufrans. Dan dengan hari itu
tentunya hari kesempatan untuk melihat sosok Ghufrans. Strategi jitu pun aku
pikirkan dengan orang-orang terdekat.
“a gir, ghufrans
ulang tahun hari ini. Gimana?” tanya ku bingung kepada Giri. Dan saking niatnya buat ngerayain ulang tahunnya
ghufrans, aku datang ke rumah Giri pada siang hari.
“gimana...gimana?
ya gimana?” tanya Giri balik, karena Dia pun merasa bingung dengan pertanyaan
yang aku tanyakan padanya.
“pengen di rayain
meskipun seadanya!!” jawabku greget, karena Giri tidak peka dengan apa yang aku
inginkan.
“ohh...hahaha ya
rayain lah, terserah maumu seperti apa?” tanya Giri padaku, sambil memainkan
handphonenya yang Dia genggam dari awal aku datang.
“mau nya sih kita sudah
ada di Rumah Ghufrans tanpa sepengetahuan Ghufrans, mamahnya juga harus
terlibat. Biar lebih berkesan melihat mamah sama anak.”
“ok..ok bisa
diatur, mending sekarang kamu kumpulkan siapa saja yang akan ikut merayakan
ulang tahunnya Dia.”
Setelah percakapan itu selesai aku beritahu
mamah Ghufrans terlebuh dahulu, sekaligus meminta izin untuk merayakan di
rumahnya. Ternyata mamah Ghufrans mengizinkannya namun beliau masih ada urusan
lain yang harus beliau kerjakan, dengan sabar aku dan yang lain menunggu
beliau. Sudah 2 jam kami menunggu beliau, pesan BBM masuk dari handphoneku
ternyata beliau mengabariku.
“neng, maaf mamah
tidak bisa ikut dengan kalian, mamah akan pulang telat jadi kalian langsung ke
rumah saja duluan. Ada teteh dan juga Ghufrans di rumah”. Isi pesan mamah yang menyatakan penyesalan beliau karena
tidak bisa ikut serta dalam rencanaku.
Sedikit kecewa
memang, karena rencanaku tidak sesuai yang aku harapkan. Namun tak masalah,
masih ada rencana lain yang bisa ku susun. Tepatnya jam 5 sore, kami yang
berjumlah 8 orang bergegegas menuju rumah Ghufrans. Di perjalanan yang jaraknya
tidak jauh dari rumah Ghufrans, Bram yang sudah ku anggap sebagai adikku
sendiri, ia berpura-pura mesin vespa balapnya itu bermasalah, maksudnya untuk
memancing Ghufrans agar dapat keluar rumah. Dan kami bisa masuk ke dalam
rumahnya tanpa ia sepengetahuannya. Dan asal kalian tahu juga, tetehnya pun aku
ajak kompromi untuk menjalankan rencanaku ini.
“cepetan
sini....barusan Ghufrans keluar rumah”, ajak tetehnya saat kita mendekat
rumahnya.
Dengan bergerombol kami langsung masuk dalam kamar
Ghufrans, suasana menjadi heboh seketika. Maklum saja, kami panik saat itu. Kue
bolu yang terlihat lezat sudah aku pasang dengan lilin yang menyala. Sedangkan
diluar sana Ghufrans sedang berjalan menuju rumah.
“ghufrans sedang
berjalan menuju rumah a”, sambar Shandi
memberitahu Giri yang sedang duduk di kasur Ghufrans. Karena barusan ia
mendapatkan BBM dari temannya Bram.
“ok. siap-siap
yah!!”, suruh Giri pada kami.
Dan sialnya...
Ghufrans terlalu lama untuk masuk dalam kamar, ia malah berdiri di depan rumah
dan mengajak ngobrol Bram tentang hal apa aku tidak tahu. Lilin yang tadinya
menyala dengan cantik, mengecil dan meleber ke dasar bolu. Kalian bisa
membayangkan mungkin, sekesal apa aku saat itu?
“buka pintu kamarnya,
langsung keluar saja kal!” komando Giri padaku. Aku menurut saja karena akan
percuma jika kita berlama-lami di dalam kamarnya.
Aku yang kerepotan
membuka pintu kamar, akhirnya Santi membantuku untuk membuka pintunya. Dibuka
lah pintu olehnya.
“Happy Brithday a Go.............”, belum juga
selesai kami menyanyikan lagu itu, Ghufrans berlari keluar dengan kecepatannya.
Dan aku kaget karena saat aku keluar dari pintu kamarnya Ghufrans sudah tidak
ada diruangan tamu itu.
“Ghufransnya
kemana?” tanyaku heran pada Bram yang ku dapati di rungan tamu.
“lari teh keluar”,
jawab Dia dengan pasang muka datar.
“haahh...seriusan
kamu?” tanyaku lagi karena tidak percaya.
Saat itu juga ku
simpan kue bolu yang dari tadi masih ada ditanganku. Aku keluar dengan hati
yang penasaran. Ku dapati sosok Ghufrans yang sedang duduk di Pos Kamling yang
tidak jauh dari rumahnya.
“kenapa
lari?” tanyaku langsung.
“tak
apa”, jawabnya singkat dengan selengean ciri khasnya.
Aku tidak pernah menyalahkan Ghufrans yang
seperti itu, Aku tetap suka. Tapi kenapa harus dengan cara yang seperti itu?
Lari dengan spontan?
Tiba-tiba Giri
mendekat saat kita sedang berbincang singkat, mengajak Ghufrans untuk kembali masuk rumahnya. Akhirnya Ghufrans mau.
Saat itu pesta dimulai, orang-orang yang aku anggap adik pada saat itu mereka
bermain dengan penuh gembira, melempari bolu pada rekannya, bahkan mengoleskan
cream kue pada wajah dengan silih berganti, mondar-mandir dengan gelagak tawa,
aku senang melihat mereka. Ghufrans, Giri bahkan Aku hanya bisa tersenyum
melihat tingkah mereka yang seperti itu. Ada hal yang mengganjal yang membuatku
hanya diam tidak banyak bicara “Ghufrans”, Dia tak pernah menatap ku sedikitpun
pada saat berbicara, dia hanya melihat orang-orang yang ada di sekelilingnya
terkecuali AKU. Itu yang membuat ku nampak berbeda seperti biasanya, seperti
bukan seorang aku. Apakah ada yang salah denganku? Ku rasa tidak. Apakah karena
ulang tahunnya kurayakan? Tapi ku rasa itu hal yang wajar, jika ia tidak ingin
di istimewakan maka ku ucapkan maaf untuknya, salahmu terlahir sebagai orang
yang istimewa. Maaf maksudku, Dia terlahir special itu menurutku dan juga
bagiku. Mungkin menurut kalian tidak seperti yang ku katakan.
“Shan, shalat
berjama’ah yu?“ ajakku pada Shandi. (Disini aku ceritakan shalat bukan karena
aku ria atau apapun itu yang kalian anggap itu negatif, karena disini akan ku
ceritakan semua tentangku terhadapnya). Bagiku itu merupakan kesempatan untuk
bisa keluar dari percakapan yang tidak jelas asal-usulnya.
Bayangan mata
Ghufrans saat tidak menatapku itu terlihat jelas, otakku sudah dipenuhi oleh
kejanggalan itu. Mungkin itu hal yang biasa bagi kalian, dan menurutku juga.
Tapi kenapa berbeda saatku menginjakan kaki di kamar mandi, itu terasa sulit
bagiku, yang ku pikirkan hanyalah “apakah ini salahku?” lagi-lagi ku seka air
yang jatuh tanpa permisi dimataku, lalu kutahan suara sesak yang sesekali
terdengar. Enggan aku untuk keluar kamar mandi, karena ku tahu sebelum aku
pulang kejadian itu akan ku dapatkan kembali seperti tadi. Percuma rasanya aku
berada dirumah ini.
Bagiku hari itu
adalah hari sialku, kalian tahu? Sebelum menuju rumah Giri ku sempatkan waktu
untuk menangis karena kesal, hadiah yang sudah aku kemas dengan rapih, yang
sudah ku siapkan jauh-jauh hari. Saat akan ku ambil yang kudapati hanya kantung
hadiahnya saja. Aku tahu siapa yang mengambil
barang itu. Yah kakaku. Yang tidak habis ku pikir, kenapa harus barang itu?
Masih banyak barang yang lain yang bisa dia ambil.
“jadi kita akan
kemana teh?” tanya santi padaku. Saat itu Dia sedang bersamaku.
“cari kakak ku”.
Jawabku singkat dengan menyeka air yang keluar, maaf mungkin aku terlihat
berlebihan. Dan asal kalian tahu itulah aku, tidak sekuat seperti yang kalian
lihat.
“kemana teh?” tanya
Dia lagi.
“ke tempat
kerjanya.” Karena ku pikir saat itu kakak ku sedang bekerja, tidak ada waktu
untuk ku telpon, karena memang saat itu kami sedang tidak mempunyai pulsa untuk
menelpon. Hehe
Setelah sampai, tak kudapati seorang
Muawaludin Ardiyan (kakaku), hanya ada rekan kerjanya yang sedang bertugas.
“teh,
pa Ardiannya ada?”. Tanyaku pada salah seorang kepala toko.
“hari
ini dia libur neng, memang tidak tahu?” tanyanya kembali, karena orang itu
cukup kenal denganku. Jadi tidak merasa canggung saat berbincang.
“tidak
teh.” Jawabku dengan sedikit kecewa, aku kembali pulang menuju rumahku karena
percumah bila ku berdiam diri ditempat itu. Ku bawa kue yang aku tinggalkan
tadi, lalu kembali menuju rencanaku yang aku buat. Dan al-hasil seperti ini,
tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan.
Disini aku meminta maaf pada Ghufrans, barang
yang aku berikan tidaklah original. Bisa dikatakan itu barang bekas, terlalu
kasar mungkin. Namun seperti itulah kejadiannya. Ku harap kau tak marah dengan
apa yang aku lakukan selama ini, bukan semata-mata demi kesenanganku, dan aku
tahu kau lebih mengenaliku dari diriku sendiri. Ku harap kau mengerti.
Hari
ke hari terlewati bahkan minggu ke minggu terasa cepat sekali, tetap via Allah
lah yang membuatku kuat. Selama itu Ghufrans masih dengan sikap diam dan
dinginnya, entah mengapa? Sampai saat ini aku tidak tahu apa alasannya.
3.
Tanggal 5 mei
kemarin tepatnya, ekspedisi ciremai 3078 mdpl dilaksanakan, aku selaku alumni
mempunyai kewajiban untuk mendampingi anggota muda sampai puncak dan kembali
pulang dengan selamat. Kurang lebih beranggotakan 10 orang, jika tidak salah,
aku lupa untuk mengingat. Aku sudah berencana untuk ikut mendampingi karena
saat itu hanya ada 2 pendamping yang mendampingi mereka, aku tidak mengharapkan
Ghufrans untuk ikut mendampingi saat itu, lebih tepatnya mengharapkan bisa
bertemu dengannya lagi.
Ternyata saat itu
Ghufrans pun ikut mendampingi, tidak munafik untuk menyatakan aku senang saat
itu bisa bertemu dengannya kembali, bahkan melakukan pendakian bersama, karena jujur selama ini aku tidak pernah
melakukan pendakian bersamanya. Gemetar hati ku, sepanjang jalan aku memikirkan
“bagaimana reaksi ku nanti saat berhadapan dengannya?” kini otakku liar,
dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan konyolku. Kalianpun tahu seperti apa
sikap Ghufrans pada ku saat minggu lalu, dan aku takut aku terlihat kikuk
didepannya. Jujur saja saat itu pula badanku terasa tidak stabil, karena cuaca
mungkin, entahlah. Seolah-olah tenggorokanku dipenuhi semut yang menggigit,
gatal sekali. Tiba-tiba seorang pria berbicara dengan jarak 4m dibelakangku.
“tuh
kan, kata aa juga diam dirumah saja jangan ikut haha”. Katanya.
Terlihat jelas
sosok itu dengan semua ciri khasnya, Ghufrans Fathurakhman, cowok menjengkelkan
yang tiba-tiba menyahut dan seolah-olah ingin mengajakku bercanda seperti
biasa. Makhluk aneh itu, membuatku ingin mengakhiri semua perjuanganku. Tapi
bohong.
Saat itu semua berjalan seperti biasa, malam
yang ku nantikan telah tiba. Semua berkumpul mengelilingi api unggun, kayu yang
basah menyulitkan kami untuk membuat api yang sempurna.
“yyeeee
saya mah dikasih jaket sama Raskal, haha.” Ucapnya seperti anak yang baru dapat
balon dari mamahnya. Semua orang hanya bisa tertawa melihat lagaknya yang
konyol itu.
“kal
lain kali pinjem barang lagi yah? Tidak apa ikhlas ko. Biar bisa dikasih hadiah
lagi hahahaha.” Katanya, karena saat itu memang benar aku meminjam barang
padanya, sebuah Sleeping Bag(SB) dan didalam lipatan SB itu ada jaket yang aku
berikan untuk Ghufrans, itu lah barang yang kusebut-sebut saat ulangtahun
Ghufrans, sebuah jaket. Anggap saja sebagai hadiah ulang tahunnya. Sebenarnya
sudah lama ingin ku berikan hanya saja keadaan yang tidak memungkinkan.
“hahaha
maumu.” Jawabku dengan senyum sumbringah.
Saat perjalanan menuju pulang tidak hanya
sekali Ghufrans memancingku dengan kalimat-kalimat yang tidak bermutu,
“tuh
kal, cewek cakep tuh namanya. Dibanding sama situ mah beuhh jauh. Mending cewek
itu lah.” Ucapnya. Dia berbicara itu tidak hanya satu kali, sering malah. Aku
sih sudah terbiasa dengan kalimat seperti itu, hanya saja jengkel saat melihat
Dia harus tertawa lepas.
Bagi ku itu adalah sebuah rayuan, rayuan
konyol yang baru pernah aku alami. Dan anehnya bisa melelah dengan caranya yang seperti itu.
Jurus apa yang Dia gunakan, entahlah? Yang penting aku senang saat itu.
“raskal
si ibu guru, kemana saja kau?”
“bang
kriwil.. saya selalu sibuk bang, gak nyangka bisa ketemu disini ya kita?”
jawabku, bang kriwil adalah salah satu panitia saat aku mengikuti seleksi di
Cirebon Adventure.
“mana
nomor handphone mu kal?”
“aduh,
saya tidak hafal nomor handphone sendiri bang.”
“Yaudah
nih. Nomor handphone saya kal, nanti sms saja kesini yah?”
Saat ku terima
kertas yang berisikan nomor handphone itu, ku dapati Ghufrans yang berada di
belakangku. Aku tidak tahu apa yang Dia pikirkan saat itu, yang aku takutkan
adalah Dia mengira bahwa aku adalah perempuan gampangan yang meminta nomor
handphone laki-laki yang tidak dikenal. Jujur, saat itu aku takut. Mencoba
untuk tenang, dan kalian tahu? Saat itu juga aku robek kertas yang diberikan
oleh bang kriwil. Aku tidak tahu Ghufrans melihat dengan jelas ataukah tidak,
aku rasa Dia melihat dengan jelas, karena jarak ku dengannya cukup dekat.
Setelah sampai Taman Nasional Gunung Ciremai
(TNGC) hujan turun, saat itu aku berteduh disebuah wc yang tidak terpakai,
sendiri.
“kal....”
laki-laki itu memanggilku, dengan jaket yang cukup basah dengan air hujan.
“heyyyy.”
Sapaku singkat, karena aku terlalu sibuk membaca novel “Stardust” ku.
“ko
sendiri? Baca novel lagi? Pindah sana yuu? Ada Ghufrans dan yang lain.” Ajak
Dia padaku. Dia adalah temanku juga satu Fakultas dengan Ghufrans, namanya
Farhan.
“tidak,
duluan saja. Nanti ku menyusul.”
Tak lama kemudian
aku menyusul, karena disuruh makan oleh Ghufrans. Ku dapati Ghufrans yang
sedang makan. Aku memilih makan bersamanya dalam piring yang sama, hal kecil
mungkin bagi kalian, dan hal kecil juga bagiku saat berpacaran dahulu ketika
suasana seperti itu. Tapi suasana kali ini berbeda, amat berbeda. Makan dengan
satu piring berdua dengan orang yang kurang peka, bahkan dingin sekalipun,
dengan status adik kakak yang mempunyai perasaan yang berbeda, aku adalah adiknya
yang merasakan rasa suka yang berlebih padanya. Dan kau adalah kakak, kakak
yang kurang peka dalam segala hal terhadapku. Untuk situasi yang seperti itu
sangat sulit untuk ku dapati dengannya. Senang sekali yang menjadi aku saat
itu.
“Maap jika aku yang terlalu berlebih dalam
mengartiakan segala hal yang kau lakukan padaku, mungkin karena aku yang
terlalu percaya diri, Tuhan pemaaf, jika hambanya lepaskan maaf, sudahkah kau?”
benakku selalu berbicara seperti itu.
Setelah makan kami berbincang dengan satu sama
lain, bahkan Farhan pun ada.
“a Gir awas si
Farhan tuh suka ada maunya kalau sudah mepet begitu tuh, jadi farhan tuh mau
sama siapa? Sama adek nya gak jadi, jadi mau sama siapa?” ucapku pada saat itu,
Farhan itu pernah mendekati Sri yang sudah ku anggap Adik sendiri. Tapi mereka
tidak memutuskan untuk berpacaran.
“pengennya sih sama
kakaknya, yah a Giri? haha” jawabnya, seolah-olah meminta izin pada Giri.
Aku cukup kaget
mendengar apa yang Dia ucapkan, aku yakin Dia hanya bercanda. Entah Ghufrans yang
sedang duduk disampingku mendengar apa yang Dia ucapkan atau tidak, aku tidak
tahu. Tapi Giri yang melihat reaksi Ghufrans dan menjawab celotehan Farhan
dengan maksud bahwa ia tidak meyetujuinya
4.
Pendakian sudah
usai saat itu kampus sedang mengadakan acara Pertandingan Olah Raga, Mahasiswa.
Seperti Futsal, Basket dan juga volly. Saat itu Fakultasku melawan Fakultasnya
Ghufrans, FKIP vs FHUT.
“hari
ini akan aku ramal, eehhh bukan Doa deh biar manjur?” ucapku pada Afifah Allif
dan Indri yang saat itu sedang bersamaku menonton pertandingan.
“doa
apa kal? Tanya Afifah.
“semoga
Ghufrans kesini liat pertandingan, amiinnn. Woyy aminin wooyy.” Pintaku pada
Afifah dan Indri.
“aammiinnn.”
Serentak mereka mengaminkan.
“coba
saja Ghufrans tiba-tiba datang terus duduk disebelahku.” Ucapku dengan nanda
yang merengek seperti anak kecil yang meminta ayahnya untuk datang dan
membawakan permen.
Entah apa yang membawa ku ingin melihat ke
arah sebelah kiri, seperti ada harapan yang akan terwujud.
“astagfiruwloh...astagfiruwloh...astagfiruwloh.”
“kal,
kenap kal...?” tanya indri dengan nada kaget.
“ndri
coba deh situ lihat ke arah kiri, cowok yang pake jaket abu, celana pendek
warna coklat kotak-kotak. Astagfiruwloh itu Ghufrans Indri.” Jawabku dengan
nada panik, jujur saat itu gemeteran. Ternyata doa ku Tuhan wujudkan.
“hahahahaha
gila situ kal, sampe istigfar begitu. Dikiranya lihat setan kali ya?.”
Aku tidak berani
untuk melirik ke arah manapun selain ke arah depan dan juga kiri, karena aku
tidak tahu posisi Ghufrans saat itu duduk disebelah mana? Jika tidak dibelakang
maka dia akan duduk di sebelah kanan.
Saat itu aku pura-pura melirik ke arah kiri
dan kudapati Ghufrans yang sedang melihatku juga, akhirnya ku lotarkan senyuman
padanya. Benar-benar merasa konyol saat itu. Tapi itulah suatu pernyataan yang
sesungguhnya, disini tidak ada kebohongan apapun, terkecuali jika aku tidak
mencintai sosok Ghufrans.
5.
Aku rasa aku
kembali seperti anak di masa remaja, dimana aku yang seperti baru merasakan
rasa aneh pada seorang pria, entah itu apa? Sebuah cinta? Sepertinya aku
terlalu malas berbicara tentang kata itu, namun harus ku lontarkan untuk
menuntaskan sebuah cerita. Tapi wajar sekali jika ku merasa seperti itu,
ceritaku berbeda dengan cerita kalian yang mungkin monoton hanya seperti itu,
tak ada hal yang menantang. Maaf jika ku sombongkan diri, kali ini sombong
adalah sebuah keharusan. Karena cerita bahkan rasaku terhadap Ghufrans tidak
bercampur dengan sebuah nafsu. Maaf maksudku nafsu yang terlalu menginginkan keutuhan
Ghufrans, dan bagi kami hanya melihat sebuah senyuman pun sudah cukup, kami
tidak serakah dalam kata yang bernamakan cinta. Khususnya untuk ku mungkin kata
kami terlalu berat. Karena aku tak tahu apa yang Ghufrans rasakan, tapi ku
yakin ia merasakan hal yang sama sepertiku.
Dan rasa yang ingin
dilindungi, bahkan tak kudapati darinya. Di rumah itu ada aku, Ghufrans dan
juga orang-orang yang sama seperti biasa, Giri, Bram, Santi dan juga yang
lainnya. Rumah itu cukup jauh dari arah rumahku, yang mengharuskan aku membawa
kendaraan pribadi. Sengaja aku membawa sepedah motor dari rumahku, karena
alasan aku takut tidak bisa pulang dengan cepat jika aku nebeng dengan salah
satu temann ku, karena biasanya mereka pulang dengan larut malam. Malam itu aku
pulang pada pukul setengah sepuluh malam.
“frans itu anter
raskal pulang, kasian masa bawa motor sendiri?” ucap salah seorang yang ku
anggap kaka, karena ia tahu aku pulang dengan seorang sendiri. Meskipun pulang
dengan waktu yang bersamaan dengan Galih dan wati tapi mereka berbeda arah
dengan arah rumahku.
Saat itu aku kikuk
dengan mendengar ucapan dari salah seorang yang ku anggap kaka, jika ku berani
saat itu ingin skali aku mengatakan “iah, anterin pulang” sambil merengek pada
Ghufrans. Tapi tak bisa, aku pikir itu bukan lah hal yang mudah untuk ku lontarkan,
meskipun beralasan karena aku adalah adikmu jadi wajar saja jika kau
melindungiku saat aku membutuhkanmu.
“hahahaha”,
Ghufrans hanya melempr tawa dengan seperti biasa, sudah kuduga, dia tidak akan peka dengan hal
itu. Bahkan untuk ingin dilindungipun aku tak punya hak. Hebat sekali bukan?
Ghufrans mengajariku menjadi perempuan tangguh sekalipun, terimakasih
6.
Bukan hanya itu,
ada hal lagi yang menurutku itu tidak logis. Tapi ini benar adanya, ini adalah
caraku untuk menahan ataupun meluapkan emosi. Aku merasa bahwa aku seperti anak
autis. Ada salah satu nomor Ghufrans yang sudah tidak terpakai lagi, aku beri
foto papahnya Ghufrans, aku mendapatkan foto itu entah dari mana aku lupa, yang
jelas aku menyimpan foto itu dengan tidak meminta izin, maafkan Ghufrans. Entah
apa yang aku pikirkan, yang jelas aku ingin berbagi rasa dengan seseorang,
dengan tanpa banyak bicara. Ku pilih untuk mengirimkan beberapa sms yang isinya
adalah curahan hatiku pada seseorang itu. Dan aku tahu sms itu pasti akan gagal
terkirim, itu sebabnya ku awali sms itu dengan kata “SENGAJA”, karena memang
dengan sengaja aku kirimkan pesan itu meski akhirnya akan gagal terkirim.
Kalian tahu?? Malam ini pukul sepuluh malam,
posisiku saat ini sendiri semua orang sedang tidak dirumah, tepatnya dikamar
depan, kamar kakaku. Saat ini aku ketakutan, bulu kudukku merinding. tapi harus
ku selesaikan ceritaku ini. Mari kita teruskan.
Papah Ghufrans
sudah meninggal, sejak tahun 2012. Kata Ghufrans papahnya sakit. Aku tidak akan
menceritakn secara detail. Hanya itu yang bisa aku ceritakan.
Aku selalu menangis
saat mencoba untuk memberitahunya lewat pesan sms yang aku kirimkan, menceritakan
tentang Ghufrans, tentang mamahnya bahkan semua yang aku alami hingga saat
ini terhadap Ghufrans.
Tidak jarang aku
mengajak Ghufrans untuk berziarah kubur papahnya, namun Tuhan belum mengizinkan.
Dan karena memang Ghufrans tipe orang yang sulit untuk bangun pada pagi hari
sehingga tidak sempat untuk berziarah. Entah apa yang memaksaku ingin sekali
bertemu dengan almarhum. Sampai ku tanyakan langsung alamat kuburan almarhum
pada kekasihnya. Tidak lama beliau memberiku sebuah alamat. Ku dapati alamat
itu.
“ri
mungkin gak sih kita dapat nemuin itu kuburan? Ini kuburan banyak banget ri”
tanyaku pesimis pada Ari temanku yang mengantarkanku.
“hahaha
tahu dah kal, cari aja lah.” Jawabnya
Tidak
ku temukan kuburan yang mamah Ghufran maksud, aku sudah pesimis untuk
mencarinya.
“Kal,
ini kuburannya.” Ucapnya, dengan berdiri disalah satu kuburan yang yang sudah
dicor dengan batu yang berwarna abu.
“jangan
bohong deh ri, sumpah udah cape ini.” Jawabku dengan kesal.
“siapa
yang bohong si? Ini seriusan.”
Aku mendekat, dan
membaca batu nisan itu. “MIED ABDUL HAMID BIN ABDURAHMAN” ternyata benar.
Kaget, senang, terharu, semua rasa bercampur.
“mau ditinggal?”
tanya Ari padaku, Dia cukup mengerti apa yang aku inginkan saat itu.
“tinggal aja ri.”
Jawab ku singkat dengan menahan air dikantung di mataku.
Dengan cepat ari
meninggalkan ku sendiri ditempat itu, buyar semua air mataku jatuh ke pipi
bahkan ke tanah sekaligus.
“pah ini saya, saya
yang sering mengirim pesan gagal untuk papah, ini saya yang mencintai anak
papah, mungkin saya tak tahu pah apa itu cinta atau rasa apakah itu saya tak
pernah tahu pah, yang jelas rasa ini semakin kuat dan semakin bertahta dihati saya. Semoga
papah bangga melihat anak papah yang menjengkelkan itu pah. Karena sayapun
begitu, dia baik pah, dia tangguh, dia berbeda dengan orang-orang yang pernah
saya kenal, salam hormat untukmu pah” itulah kalimat yang aku lontarkan untuk
menyapa beliau dalam hati saya. Aku yakin beliau dapat melihatku saat itu.
Meskipun sangat mustahil aku dapat melihat nya, tapi aku yakin beliau hadir
saat itu.
Tak lupa saya
panjatkan doa untuk beliau, sekali lagi saya tekankan saya tidak peduli menurut
kalian ini Ria atau apapun itu, yang jelas aku tidak bermaksud untuk seperti
itu. Dan dimanapun bahkan siapapun untuk kalian yang membaca ceritaku.
Sempatkan lah untuk mendoakan beliau. “Semoga beliau selalu ada dalam perlindungan
Allah SWT, amin.”
Dan jangan lupa
doakan pula aku dengan Ghufrans, doakan yang terbaik untuk kita. Terimakasih
untuk mamah yang dengan senang hati memberiku alamat itu, dan terimakasih yang
sebesar-besarnya untuk temanku Ari yang sudah mengantarkan ku.
7.
Maaf mungkin dalam
ceritaku tidak sedikit ada subuah tangisan, jika kamu memanggap itu adalah
lemah?? Lalu bagaimana reaksimu jika posisimu sama sepertiku? Saya berani
bersumpah kamu tidak akan bisa memasang wajah yang senyum sekalipun. Jika benar
kamu bisa memasang wajah tersenyum? Maka setelah itu saya pastikan kamu
menangis lebih dari tangisanku mungkin.
Ini adalah ceritaku, cerita yang entah sampai
kapan akan berlanjut. maaf untuk kata rindu yang tak pernah usai, Rindu yang
smakin menjadi bahkan rasa yang semakin bertahta
Terimakasih,
Hormat Saya,
“Rita
cikuy”
Gimana, bagus kan cerpennya? ayoo bagi kalian yang suka membuat Karya Sastra baik itu cerpen, puisi, dan karya lainnya kirim saja ke email kami yaitu himapgsduk@gmail.com
Ayo kami tunggu karya kalian, untuk kami publikasikan baik di blog ataupun di mading PGSD UNIKU :)
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar